Membersamai Pendidikan Anak di Lingkungan Rumah

Pendidikan sejatinya membutuhkan kerjasama yang baik antara pihak sekolah/institusi pendidikan dan lingkungan di rumah demi tumbuh kembang anak yang seutuhnya, terlepas dari kondisi pandemi Covid-19. Kini, dengan lebih dari 60 juta murid di Indonesia yang untuk sementara waktu terpaksa melakukan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dari rumah, peran orangtua semakin dibutuhkan dalam keseharian proses kegiatan belajar mengajar.


Di satu sisi hal ini memberikan lebih banyak ruang interaksi antara anak dan orangtua, namun di sisi lain tidak semua orangtua siap mendampingi pembelajaran anak di rumah, terlebih ketika mereka juga harus fokus pada kewajiban lain untuk menghidupi keluarga.


Untuk itu, teman-teman Local Champion Aha! hadir untuk turut mendukung pembelajaran adik-adik di sekitarnya, di samping penyediaan media belajar Lembar Kerja Aha! -- ikuti kisah para Local Champion Aha! di sini. Pada kesempatan kali ini kami berdiskusi seputar proses kreatif dalam membersamai pendidikan anak di lingkungan rumah yang menghadirkan Ibu Septi Peni Wulandani sebagai pakar pendidikan keluarga sekaligus penasihat Aha! Project.



Baik secara daring maupun luring, pada dasarnya anak perlu melalui proses MIKIR dalam pembelajarannya:

  1. MENGALAMI Lebih dari sekadar teori, proses penemuan (discovery) atau momen Aha! yang didapat dari praktek atau pengalaman menjadi bagian penting dalam pemahaman anak terhadap suatu ilmu.

  2. IMAJINASI Setelah mengalami, secara naluriah akan muncul rasa ingin tahu yang luar biasa dengan beragam pertanyaan yang merangsang imajinasi anak. "Mengapa... Bagaimana... Apa... Andai kata aku bisa, maka... dan sebagainya." Dimanapun kita berada, tanpa pandang bulu, setiap anak memiliki kesempatan untuk mengalami dan berimajinasi. Anda bisa memulai dengan kegiatan yang bisa dilakukan di dalam dan sekitar rumah.

  3. KOMUNIKASI Buka ruang percakapan dua arah dengan anak dengan memposisikan diri sebagai "Teman Belajar", bukan "Pengajar" yang memiliki kecenderungan sifat menggurui. Komunikasi merupakan kunci proses pembelajaran yang bermakna, apa pun konten dan kegiatan yang dilalui. Gunakan bahasa yang sederhana ketika menyampaikan sebuah pesan dan dengarkan pendapat anak secara aktif dan seksama.

  4. INTERAKSI Pembelajaran yang interaktif dan dinamis dapat memantik semangat anak meraih ilmu. Ada berbagai interaksi yang muncul dari sebuah kegiatan, baik antar manusia maupun dengan alam, yang menambahkan aspek keterampilan sosial dan berpikir kritis dalam prosesnya.

  5. REFLEKSI Di akhir kegiatan, luangkan waktu untuk apresiasi dan mendengarkan umpan balik (feedback) dari anak-anak -- apa saja hal yang telah dipelajari, apakah mereka menikmati prosesnya, dsb. Kita juga bisa belajar pemahaman serta perspektif baru dari anak terhadap sebuah materi atau aktivitas. Semua murid, semua guru.


Darimana memulainya? Setelah memahami konsep dasar pembelajaran anak, kini saatnya mencari konten untuk diterapkan. Lembar Kerja Aha! dengan beragam aktivitas dan panduan di dalamnya bisa menjadi pemantik di awal, yang dapat dikreasikan cara penyampaiannya melalui permainan maupun kegiatan yang menghubungkan materi edukasi dengan situasi atau benda yang ada di sekitar kita.

Jalankan apa yang membuat teman-teman bahagia. Jadikan proses pembelajaran ini sebagai ruang eksplorasi dan pengembangan diri kita. Anda juga dapat menambahkan konsep gamifikasi, karena pada dasarnya ada 4 hal yang tidak bisa ditolak anak: Dongeng, Bermain, Hadiah, dan Kejutan. Yang tak kalah penting, dibutuhkan kesungguhan dalam menjalankan setiap prosesnya.


#mainbareng #ngobrolbareng #beraktivitasbareng

87 views0 comments

Recent Posts

See All