1,2 Miliar Siswa Terdampak Covid-19

Updated: Sep 19, 2020

Pembatasan sosial terkait pandemi Covid-19 menyebabkan sekitar 1,2 miliar siswa di dunia harus mengikuti pembelajaran jarak jauh. Pemerintah harus memastikan tidak ada siswa yang tertinggal.


Libur sekolah untuk mencegah penyebaran virus korona jenis baru yang serentak dilakukan di 124 negara berdampak terhadap lebih dari 1,2 miliar siswa atau 72,9 persen dari jumlah siswa di seluruh dunia. Kesinambungan pembelajaran harus dijamin, terutama bagi mereka yang paling rentan, agar siswa tetap mendapatkan hak atas pendidikan yang setara.


Pembelajaran daring menjadi solusi untuk menjamin keberlanjutan pembelajaran di sekolah yang terputus karena pandemi Covid-19 saat ini. Namun, bagi mereka yang tidak bisa mengakses internet dengan baik atau bahkan mengakses teknologi, pembelajaran daring menjadi masalah besar bagi mereka.


Selain berdampak pada prestasi, libur sekolah saat ini bisa menambah ketidakmerataan pendidikan. Keluarga yang beruntung secara ekonomi cenderung memiliki tingkat pendidikan yang lebih tinggi dan lebih banyak sumber daya untuk mengisi kesenjangan belajar dan menyediakan kegiatan pengayaan bagi anak-anak selama belajar di rumah.


Sementara bagi siswa yang di sekolahnya ada pemberian makan atau tambahan gizi seperti di sejumlah sekolah di India, libur sekolah berarti berkurangnya pemenuhan kebutuhan makan dan gizi mereka. Akhirnya, libur sekolah tidak hanya berdampak pada pendidikan mereka tetapi juga bisa berdampak pada kesehatan mereka karena kebutuhan makan tidak tercukupi.


Karena itu, Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO), dalam pertemuan virtual melalui webinar (web seminar), mengajak negara-negara untuk berbagi pengalaman mengatasi permasalahan ini secara menyeluruh. Pertemuan ini diselenggarakan pada 20 Maret 2020 yang diikuti lebih dari 50 negara.


”Kami bekerja dengan negara-negara untuk memastikan kesinambungan pembelajaran bagi semua, terutama anak-anak dan remaja yang kurang beruntung yang cenderung paling terdampak oleh penutupan sekolah,” kata Direktur Jenderal UNESCO Audrey Azoulay, seperti dikutip dari laman UNESCO.


Pada kesempatan itu, Catherine Kane dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan pembelajaran dari pendekatan yang digunakan dalam situasi darurat, termasuk langkah-langkah untuk memastikan bahwa siswa yang mengandalkan makanan dari sekolah tidak kelaparan ketika sekolah libur.


Langkah negara-negara

Dalam pertemuan melalui webinar tersebut, Penasihat Menteri Pendidikan Italia Alberto Melloni menyoroti pentingnya pendekatan seluruh masyarakat. Di Italia, lebih dari 8 juta siswa terdampak. Untuk memastikan bahwa pembelajaran terus berlanjut untuk semua, Kementerian Pendidikan Italia menginvestasikan 85 juta euro untuk mengirimkan perangkat pembelajaran daring kepada siswa yang paling kurang beruntung.


Pemerintah Rwanda dihadapkan pada masalah lonjakan permintaan untuk platform pembelajaran daring dan masalah konektivitas. ”Kami sedang berurusan dengan masalah kesetaraan dan telah menetapkan biaya bandwidth nol sehingga orangtua tidak perlu membayar,” kata Ms Christine Niyizamwiyitira, Kepala Departemen Pendidikan Teknologi Informasi dan Komunikasi di Rwanda Education Board.


Dia mengatakan, pembelajaran jarak jauh di Rwanda menggunakan beragam platform, mulai dari platform daring hingga siaran radio dan televisi. Pihaknya sedang mengembangkan panduan belajar untuk mendukung siswa, orangtua, dan guru.


Adapun Direktur Jenderal Pusat Nasional Pendidikan Jarak Jauh (CNED) Perancis, Michel Reverchon-Billot, menekankan peran sentral guru dalam menjamin kelangsungan pendidikan. Selain menyediakan platform pembelajaran digital nasional, My Class at Home, Pemerintah Perancis juga menyediakan perangkat dan dukungan kepada 5 persen siswa tanpa akses internet.


Direktur Jenderal Departemen Sains dan Teknologi Kementerian Pendidikan China Chaozi Lei mengatakan, Kementerian Pendidikan bekerja sama dengan perusahaan penyedia platform pendidikan daring menyediakan layanan dan bahan ajar secara gratis untuk siswa, mahasiswa, dan masyarakat. Pemerintah China juga memberikan pelatihan untuk membantu para guru beradaptasi dengan lingkungan belajar yang baru dan menguasai keterampilan mengajar secara daring.


Pemerintah Korea Selatan melalui Republic of Korea’s Education and Research Information Service (KERIS), menyediakan konten pendidikan daring, ruang kelas elektronik, platform bagi guru untuk bertukar rencana dan kegiatan pembelajaran daring, serta platform buku teks digital. Selain itu, kata Hwansun Yoon dari KERIS, siswa juga diajari mengenali berita hoaks tentang pandemi Covid-19 melalui platform digital dan radio.



Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Gogot Suharwoto mengatakan, guru dan orangtua berada di garis terdepan untuk pembelajaran daring selama masa pembatasan sosial ini. Selain bisa mengakses platform Rumah Belajar (https://belajar.kemdikbud.go.id/) dan sejumlah platform pendidikan daring secara gratis, masyarakat bisa mengikuti pembelajaran daring melalui TV Edukasi.


”Sekolah tetap harus memantau belajar siswa. Kalau ada yang menghadapi kendala dalam pembelajaran daring ini, karena akses teknologi dan internet terbatas, siswa dapat mengerjakan tugas bisa secara tertulis,” kata Gogot.


sumber : https://kompas.id/baca/humaniora/dikbud

38 views0 comments

Recent Posts

See All

Ada yang bisa kami bantu?

Jalan Margosari PR 4
Salatiga 50711

Jawa Tengah - Indonesia
Email:kontakaha@gmail.com

  • Instagram
  • Facebook
  • YouTube

© 2020 by Aha!Project 

  • Instagram
  • Facebook
  • YouTube